Skema Investasi

Skema Investasi
Skema Investasi

Ekonomi Cycle

Ekonomi Cycle
Source : http://www.fxwords.com/f/fundamental-analysis.html

Indonesia InterBank Rate

Indonesia Total Car Sales

Indonesian 10Yr Bond Yield

Jakarta Stock Exchange

Fx Info Box

Fx Weekly Range

Fx Monthly Pip Banked

Sabtu, 14 Januari 2012

Hitung Kebutuhan Asuransi Kita Yuk...

KOMPAS.com - Kebanyakan orang Indonesia kekurangan proteksi asuransi. Istilah pada dunia asuransi adalah underinsure. Alias proteksi yang dimiliki tidak mencukupi kebutuhan sebenarnya. Ujungnya, tentu akan kesulitan. Harapan besar bahwa asuransi akan menghapuskan kesulitan ketika kepala keluarga tidak mampu memberi nafkah, sirna sudah.

Banyak contohnya. Evita Carolina (39) warga Bekasi dengan tiga anak mengatakan membayar premi asuransi jiwa sebesar Rp 2,8 juta per tahun. Uang pertanggungannya hanya sebesar Rp 50 juta. ”Memang kurang, tetapi belum ada rencana menambah lagi,” ujar ibu rumah tangga yang baru melahirkan anak ketiganya ini. Nurul Pramudya (36) lebih ekstrim lagi. Dia hanya memiliki asuransi pendidikan sebesar Rp 10 juta untuk kedua anaknya. Padahal, sejak suaminya meninggal 9 tahun lalu, dia berjuang sendirian untuk menghidupi kedua anaknya. Jika terjadi risiko meninggal, kedua anaknya hanya akan menerima uang pertanggungan sebesar Rp 10 juta saja. ”Dahulu jumlah itu sudah terlihat besar, tetapi sekarang kecil sekali,” kata Nurul mengakui kecilnya uang pertanggungan yang dia miliki.

Sementara itu, Fitri Dharmayanti (40) seorang wanita pengusaha di Bengkulu mengatakan dia dan suaminya memiliki asuransi jenis unit link dengan uang pertanggungan Rp 500 juta. Tampaknya uang pertanggungan ini besar. Dengan biaya hidup sebesar Rp 8 juta per bulan, uang pertanggungan ini dapat memenuhi kebutuhan keluarganya selama lima tahun. Setelah lima tahun uang akan habis sementara anaknya yang masih bersekolah di sekolah dasar belum dapat memenuhi biaya hidupnya sendiri.

Mengapa kebanyakan nasabah asuransi tidak memiliki proteksi yang mencukupi kebutuhannya ? Hal itu terjadi karena nasabah sendiri tidak mengetahui berapa sebenarnya proteksi yang dibutuhkan. Sebagian besar orang membeli asuransi berdasarkan promosi dari agen asuransi, bukan kesadaran mencukupi kebutuhan proteksi. Jadi, antara kebutuhan dan proteksi yang ditawarkan tidak sebanding.

Selain kurang informasi dari agen asuransi, nasabah juga tidak memiliki kemampuan untuk menghitung berapa kebutuhan proteksinya. Padahal, caranya cukup mudah lho.
Cara menghitung
Ada beberapa metode digunakan untuk menghitung kebutuhan asuransi. Cara pertama adalah menghitung berdasarkan human live value. Metode ini menentukan uang pertanggungan asuransi berdasarkan berapa penghasilan dari seorang kepala keluarga yang disetahunkan. Penghasilan ini dikalikan dengan seberapa lama kira-kira dana tersebut diperlukan oleh ahli waris hingga ahli waris dapat mandiri. Biasanya, yang digunakan patokan untuk waktu ahli waris dapat mandiri adalah seusai dia selesai kuliah. Asumsinya, si anak atau ahli waris itu selesai kuliah dapat bekerja dan menghidupi dirinya sendiri. Uang pertanggungan ini tidak memperhitungkan pertumbuhan dana jika disimpan di bank atau instrumen investasi lainnya.
Jadi misalnya sebuah keluarga Budi dengan ayah, Budi yang berusia 35 tahun, memiliki seorang istri yang tidak bekerja dan seorang anak yang berusia lima tahun. Penghasilan si ayah sebesar Rp 5 juta per bulan. Maka berdasarkan metode human live value, uang pertanggungan asuransi yang diperlukan adalah sebesar Rp 5 juta x 12 x 20 tahun = Rp 1,2 miliar.
Mengapa dikalikan dengan 20 tahun? Waktu 20 tahun itulah merupakan masa yang harus dilindungi. Mengingat si anak saat ini berusia 5 tahun, dalam waktu 20 tahun mendatang dia akan berusia 25 tahun, diharapkan sudah selesai kuliah dan dapat membiayai dirinya sendiri sehingga tidak tergantung lagi dari uang pertanggungan asuransi.
Sehingga keluarga ini memerlukan uang pertanggungan asuransi sebesar Rp 1,2 miliar untuk memproteksi keperluan keluarga selama 20 tahun.
Semakin tinggi uang pertanggungan, semakin tinggi pula premi yang harus dibayarkan. Jika untuk mendapatkan uang pertanggungan sebesar Rp 1,2 miliar premi yang harus dibayarkan terasa mahal, cara ini dapat diganti dengan memperhitungkan pengeluaran, bukan pendapatan.
Seumpama dari pendapatan sebesar Rp 5 juta tersebut ternyata biaya kebutuhan keluarga sebesar Rp 4 juta, maka perhitungannya menjadi Rp 4 juta x 12 x 20 tahun = Rp 960 juta.
Masih ada cara untuk menghitung berapa besarnya uang pertanggungan asuransi, cara kedua adalah income based value (IBV). Dengan cara ini, perlu dihitung berapa dana yang harus diinvestasikan agar dapat menghasilkan uang sebesar Rp 4 juta sebulan seperti contoh di atas untuk memenuhi kebutuhan keluarga tersebut. Dana itu harus diinvestasikan pada instrumen investasi yang aman. Saat ini, instrumen investasi yang dikategorikan aman dan memberikan imbal hasil di atas bunga perbankan adalah obligasi negara Indonesia (ORI).
Saat ini, tingkat suku bunga ORI sebesar 7,3 persen, dikurangi pajak 20 persen sehingga didapatkan hasil netto sebesar 5,84 persen per tahun atau 0,48 persen per bulan. Nah, untuk mendapatkan dana sebesar Rp 4 bulan sebagai pengeluaran per bulan dengan bunga sebesar 0,48 persen per bulan berapa besarnya investasi yang diperlukan ?
Cara perhitungannya, Rp 4 juta/0,48 persen = Rp 840 juta. Sehingga idealnya keluarga ini memiliki dana investasi bebas risiko sebesar Rp 840 juta untuk dapat memenuhi pengeluaran sebesar Rp 4 juta per bulan. Dari mana dana investasi ini ? Dana ini didapatkan dari uang pertanggungan asuransi. Sehingga dengan metode IBV, keluarga ini memerlukan uang pertanggungan sebesar Rp 840 juta agar dapat menghasilkan dana sebesar Rp 4 juta per bulan jika pencari nafkah meninggal.
Sementara cara ketiga disebut survival based value (SBV). Dengan cara ini, dihitung berapa utang yang harus dilindungi dan berapa penghasilan yang harus dilindungi sampai orang yang ditinggalkan (disebut survival) dapat bekerja. Metode ini mengasumsikan orang yang ditinggalkan akan bekerja dan akan bekerja setelah ditinggalkan kepala keluarga.
Jika menggunakan metode ini, ada beberapa hal yang harus diperhatikan. Semakin besar uang yang harus dibayarkan, semakin besar pula uang pertanggungan asuransi yang dibutuhkan. Selain itu, semakin tinggi pendidikan dan semakin banyak pengalaman yang dimiliki pasangan, diasumsikan semakin cepat pula dia mendapatkan pekerjaan. Faktor lain yang harus diperhitungkan juga adalah berapa besarnya dana darurat yang dimiliki keluarga tersebut.
Misalnya keluarga Danu (38). Danu berpenghasilan Rp 10 juta per bulan. Si istri, Ani berusia 30 tahun dan baru dua tahun tidak bekerja. Sebelumnya istri bekerja dengan gaji Rp 4 juta per bulan. Keluarga Budi membeli rumah dengan cara mencicil. Rumah tersebut berharga Rp 400 juta dan sisa utang mereka Rp 300 juta. Cicilan per bulan sebesar Rp 1,5 juta. Total pengeluaran keluarga ini Rp 8 juta per bulan. Keluarga Danu memiliki dana darurat sebesar Rp 50 juta. Berapa besar perlindungan yang harus dimiliki keluarga tersebut ?
Dengan memperhitungkan dana darurat yang sebesar Rp 50 juta, dengan pengeluaran Rp 8 juta berarti dana tersebut dapat digunakan untuk menutup biaya hidup sehari-hari selama 6 bulan.
Selain itu, dengan memperhitungkan pengalaman kerja serta keahlian istri, diasumsikan dia akan mudah mendapatkan pekerjaan lagi setelah suaminya meninggal. Jika penghasilan terakhir Rp 4 juta, diperkirakan penghasilan istri jika bekerja kembali ada kenaikan 10 persen, berarti potensi pendapatan keluarga ini sebesar Rp 4,4 juta per bulan.
Ketika mengikat akad kredit, biasanya kreditor diasuransikan seumur kredit tersebut. Jadi jika meninggal, sisa tagihan KPR akan dilunasi oleh uang pertanggungan dari asuransi kredit tersebut. Jadi pengeluaran sebesar Rp 1,5 juta untuk membayar cicilan KPR tidak ada lagi. Biaya hidup turun dari Rp 8 juta – Rp 1,5 juta menjadi Rp 6,5 juta. Dengan pendapatan istri yang sebesar Rp 4,4 juta dan pengeluaran sebesar Rp 6,5 juta, keluarga ini masih kekurangan pendapatan sebesar Rp 2,1 juta per bulan. Jadi Rp 2,1 x 12 x 20 tahun = Rp 504 juta. Nah, Rp 504 juta inilah yang merupakan kekurangan yang harus ditutupi dari uang pertanggungan asuransi. Dengan uang pertanggungan asuransi sebesar Rp 504 juta ditambah dengan istri yang bekerja kembali, maka keluarga ini tetap dapat memenuhi kebutuhan sehari-harinya jika pencari nafkah utama meninggal dunia.
Hasil perhitungan beberapa metode ini berbeda. Pilihlah yang sesuai dengan keadaan keuangan Anda. Jangan cemas dahulu jika hasil perhitungan menyebutkan Anda memerlukan uang pertanggungan hingga miliaran rupiah. Carilah jenis asuransi yang sesuai dengan kantong.
Untuk mendapatkan uang pertanggungan sebesar Rp 1 miliar, jika Anda masih muda sekitar umur 30an dan sehat, biayanya hanya sekitar Rp 3 juta per tahun jika mengambil asuransi berjangka atau term life. Tentu uang premi akan semakin mahal jika usia bertambah dan kesehatan terganggu.
Oleh sebab itu, janganlah menunda membeli proteksi, demi keluarga tercinta. (Anastasia Joice)

Source : Koran Kompas


Kamis, 01 Desember 2011

Indonesia saat ini








Melihat data-data diatas dengan tingkat pengangguran yang terus menurun dan suku bunga yang terus ditekan maka berkemungkinan ancaman ke depannya adalah inflasi.
Kenapa bukan deflasi seperti yang terjadi di daratan USA maupun euro ? 
karna disana banyak sekali pengangguran sehingga berkurangnya daya beli. Sementara di indonesia ada potensi daya beli karna jumlah pengangguran terus berkurang. 
Banyak orang yang bekerja dan menghasilkan uang dan mampu untuk meningkatkan daya beli. 
Namun ada sedikit fenomena pada data inflasi diatas, kenapa dengan terus ditekannya suku bunga malah membuat inflasi ikut turun (garis vertical jan/11 pd gambar inflation rate) yang semestinya jika suku bunga ditekan turun maka inflasi seharusnya naik seperti pd gambar bagan ekonomi pd link Makro ekonomi struktur
Hal tersebut berkemungkinan terjadi karna disebabkan adanya tekanan deflasi dari luar. Pemerintah terus melawan fenomena ini dengan menurunkan lg suku bunganya di bulan november 2011 dari 6.5% menjadi 6%. 
Jika hal ini berhasil, maka investor obligasi akan memindahkan dananya ke pasar saham dikarenakan nantinya bisa menyebabkan inflasi dan pada akhirnya akan menggerus nilai uangnya di obligasi.
Saham-saham yang rentan dengan suku bunga akan bergairah lagi seperti, sektor bank, finance, dan brokerage.
Kita tunggu saja apakah tekanan deflasi dari luar bisa diusir atau tidak. 
Jika tidak, maka pasar saham akan turun lagi, harga obligasi akan turun, dan kurs akan lemah. 
Tapi jika berhasil, maka pasar saham akan naik (terutama sektor yang rentan dengan suku bunga karna nantinya suku bunga dalam keadaan turun atau dalam keadaan lower steady), harga obligasi akan naik, dan kurs akan kuat.
Beralih ke pada siklus ekonomi, merujuk kepada data diatas maka perkiraan saya indonesia berada pada fase midle expansion. lihat Siklus ekonomi .
Semua yang tertulis pada bagian mid-cycle cocok dengan data-data diatas, dimana masalah inflasi akan menjadi konsentrasi dan pada akhirnya akan memberikan goal pada sektor manufacture/basic-industri diakhir fase midle expantion ini. Nantinya akan berlanjut pada fase late expansion.
Ini korelasi antara siklus ekonomi dengan siklus pasar Siklus ekonomi dan pasar dan Siklus bisnis dan pasar.  Jadi perkiraan saya, indonesia masih jauh dari masa resesinya sebab masih ada satu fase lagi yang belum terlewati.
Konsentrasi pada inflasi yang telah disinggung diatas nantinya bisa disebabkan oleh daya beli seperti tertulis pada link ini tren kredit konsumsi di indonesia jadi ada baiknya kita menilik kepada perbankan yang memberikan jenis kredit produktif. Untuk hal ini pun bisa kita lihat sepak terjang dari beberapa pebisnis indonesia yang telah menyiapkan banknya untuk masuk ke bagian ini. Beberapa nama pebisnis ini yang saya ingat adalah Arifin Panigoro (SDRA) dan Sandy Uno (BEKS).














Rabu, 30 November 2011

Pembacaan ekonomi makro secara garis besar


siklus  dari suku bunga memiliki 4 jenis:
1. Naik
2. Datar (upper steady)
3Turun
4. Datar (lower steady)

Pasar tidak suka suku bunga yang naik karna akan mempengaruhi pertumbuhan dan pendapatan. Jika suku bunga naik maka pasar akan turun. Saham-saham perbankan, brokerage, dan finance sangat sensitive terhadap kenaikan suku bunga. Harga-harga akan turun.
Suku bunga naik, maka harga obligasi akan turun (yield naik). Suku bunga turun, maka harga obligasi akan naik (yield turun).
Bagian pertama dari siklus suku bunga biasanya terjadi pada fase late expansion dari perputaran bisnis. Pada fase late expansion ini kondisi ekonomi sangat bagus. Pengangguran rendah, inflasi naik. Inflasi yang naik tersebut akan di lawan oleh pemerintahan untuk mengontrol perekonomian dengan cara menaikan suku bunga. Pada tahap ke dua, pemerintahan akan menahan suku bunga pada nilai rate yang tinggi sehingga perekonomian melambat dan inflasi tertekan. Idealnya ekonomi tidak akan melambat terlalu banyak tapi akan turun secara perlahan-lahan (soft landing). Pada kenyataannya, bagaimanapun, hampir setiap pemerintahan menaikan suku bunga terlalu tinggi akan memicu resesi yang keras.
Ketika resesi mulai muncul, siklus suku bunga akan memasuki tahap ke tiga yaitu menurunkan suku bunga yang tadinya tinggi. Tujuannya untuk menghidupkan lagi roda perekonomian. Pada fase ini, inflasi akan turun atau dalam bayang-bayang deflasi. Pada tahap ke empat, suku bunga akan ditahan serendah mungkin agar roda perekonomian kembali berputar.

Kurva yield menjelaskan hubungan antara yield jangka pendek dengan jangka panjang. Kurva yield jangka pendek ditentukan oleh pertimbangan keputusan pemerintah. Kurva yield jangka panjang ditentukan oleh expektasi inflasi oleh investor.
 
Kurva Yield terbagi atas 4 bagian.
  1. Normal : signal yang sehat, terus maju, tidak ada expansi dari inflasi.
  2. Steep : signal akan terjadi expansi ekonomi baru dan kenaikan pasar.
  3. Inverted : hampir selalu terjadi setelah flat panjang dibagian atas.
  4. Flat : bisa memberikan signal resesi.
Investor mesti menggunakan kurva yield untuk mengantisipasi perubahan krusial pada pasar saham dan pasar obligasi dan dengan demikian memanfaatkan peluang investasi yang menguntungkan.

Bagan Ekonomi
Pada gambar "Bagan Ekonomi" terdapat beberapa item, yaitu inflasi, suku bunga acuan (SBI), yield obligasi 10th keatas, index saham, currency (kurs), dan harga obligasi. Ini semua adalah system perjalanan dari investasi atau bisnis. Acuan dasarnya adalah inflasi, jd apakah yang terjadi jika inflasi naik dan apa yang terjadi jika inflasi turun ? system ini menjelaskan pada kita. jika garis-garis pada gambar mengarah ke atas berarti naik dan jika mengarah ke bawah berarti turun. Sebagai contoh, jika inflasi naik maka suku bunga acuan akan ikut naik dan yield obligasi juga akan ikut naik dan imbas lainnya index saham akan turun, kurs akan melemah, dan harga obligasi juga ikut turun.
Jika seandainya inflasi saat ini tetap tapi yield obligasi malah naik, ini merupakan akibat dari asumsi partisipan bahwa ke depannya akan terjadi inflasi yang cukup tinggi. Dan begitu juga sebaliknya, jika inflasi saat ini tetap tapi yield obligasi malah turun maka asumsi partisipan bahwa ke depannya akan terjadi deflasi yang cukup tinggi.

Contoh kurva yield normal

Pemerintahan bisaanya tidak langsung men-seting yield jangka panjang karna yield jangka panjang ditentukan oleh expektasi terhadap inflasi.
Pada tahun 2000 – 2003, pemerintahan di amerika serikat mengambil langkah yang tidak biasa dan tergolong extreme dengan membeli obligasi jangka panjang di pasar untuk menurunkan kurva yield jangka panjangnya.
Hal ini dilakukan karna expektasi kenaikan inflasi mengikis nilai obligasi yang ada sehingga harga obligasi harus jatuh untuk mencerminkan risiko inflasi ini.
Ketika kurva berbentuk flat atau menjadi inverted (terbalik) dengan yield jangka pendek lebih besar dari yield jangka panjang maka ekonomi sedang berkontraksi.
Sebabnya bank meminjam uang dari deposan pada level suku bunga jangka pendek  yang rendah dan keluar pada level suku bunga jangka panjang yang tinggi. Saat spread tersebut melebar, otomatis mereka menciptakan keuntungan hanya dengan melakukan transaksi tersebut. Saat spreadnya menyempit, maka bank akan berhati-hati memberikan pinjaman. Hal ini selalu menyempit pada akhir expansi. Penurunan terakhir, kurva yield akan terbalik. Dan tentu saja bank-bank akan semakin ketat memberikan pinjaman.
Kurva yield normal mendefinisikan keadaan perekonomian yang tenang pada siklus suku bunga ketika investor obligasi berharap perekonomian berlanjut ke masa expansi pada tingkat suku bunga yang sehat tanpa ada perasaan takut terhadap inflasi. Kurva yield normal bisaanya diamati selama fase periode middle expansion dari siklus bisnis dan awal dari fase middle bull siklus pasar saham. Ini waktunya dimana pemerintahaan menjaga suku bunga steady dibawah ( tetap rendah) dan tanpa ketakutan pada inflasi. Ini saat dimana trend pasar bisaanya naik dan sektor yang sensitive terhadap suku bunga akan berperformance dengan baik.
Sebaliknya, kita sering mengamati sebuah kurva yield yang curam pada awal expansi ekonomi setelah resesi berakhir. Kurva yield yang curam sering meramalkan perubahan besar pada trend pasar dan awal dari bull market yang baru. Investor harus mengamati sebuah logika yang sederhana dan menarik, dan ini semua adalah tentang waktu (momentum).
Pada awal expansi ekonomi, kita akan mendapatkan sebuah point yang rendah dari siklus suku bunga sebab pemerintah telah menyelesaikan stimulus moneternya.
 
Sebagai point penting, dengan rendahnya suku bunga dan pemulihan (recovery) pada jalannya, maka bisnis akan mulai terlibat dalam investasi modal yang baru. Hal ini meningkatkan permintaan modal yang akan didanai secara besar-besaran oleh aksi korporasi pada pinjaman jangka panjang yang lebih banyak. Oleh sebab itu tekanan akan dimulai pada kurva yiled jangka panjang. Hal ini menandakan menyalanya investasi modal yang sehat yang akan segera menggerakan ekonomi. Pada saat yang sama, pembeli obligasi jangka panjang mendeteksi sebuah pemulihan, mereka akan mulai meminta suku bunga yang tinggi. Pembeli obligasi sangat mengerti dengan adanya expansi ekonomi akan membawa sebuah resiko inflasi. Karna ini adalah sebuah expansi, pengangguran berkurang dan “kemacetan” mulai muncul pada rantai pasokan perusahaan, baik harga dan kenaikan upah akan terbentuk.
Pada kurva yield terbalik (inverted) ada 2 hubungan tekanan bearish. Pada jangka pendek, pemerintah mulai menaikan suku bunga untuk melawan inflasi. Hal ini bisa membuat kurva yield jangka pendek lebih tinggi dari kurva yield jangka panjang meskipun yield jangka panjang tidak berubah.
Namun, mungkin benar juga bahwa kurva yield jangka panjang akan mulai turun perlahan-lahan, lanjut pada kurva terbaliknya. Kenapa hal ini bisa terjadi ? dengan kata lain mengapa investor mau membeli obligasi jangka panjang dengan yield yang rendah dari pada yield jangka pendek ?
Jawabannya sangat gampang, jika investor obligasi percaya bahwa tindakan pemulihan pemerintah akan memicu sebuah resesi, seperti sebuah resesi deflasi. Investor obligasi mungkin akan bersedia mengunci yield jangka panjang pada tingkat yang lebih rendah dari pada yield jangka pendek.

Sebuah kurva yield yang flat terjadi ketika tingkat yield kira-kira sama antara jangka panjang dan jangka pendek. Hal ini bisa terjadi untuk alas an yang sama bahwa kurva yield membalik. Entah pemerintah dapat menaikan suku bunga jangka pendek untuk kontraksi ekonomi dan melawan inflasi atau kurva yield jangka panjang akan mulai turun sebagai antisipasi terhadap resesi dan kemungkinan deflasi atau keduanya.
Pada banyak kasus, sebuah flattening dari kurva yield memberi signal perlambatan pertumbuhan ekonomi dan sebuah kemungkinan resesi. Dan tentu juga, setiap pembalikan (inverted) kurva harus melalui tahap flattening terlebih dahulu. Bagaimanapun, tidak semua kurva flat mengarah pada pembalikan kurva. Kurva flat bisa diandalkan sebagai predictor dari resesi dan sebuah penurunan pasar sebagai kurva terbalik. Namun sekali kurva mulai flat, maka ada kemungkinan kurva akan berubah jadi terbalik (inverted) , dan antara ekonomi dan pasar saham akan turun atau melemah.
Kurva Yield

Selasa, 01 November 2011

Lo Kheng Hong, Menjadi Kaya Sambil Tidur


Sembari ongkang-ongkang kaki, lenggang kangkung, dan tidur pulas, Lo Kheng Hong bisa menjadi miliarder di pasar saham dan mengeduk gain hingga 150.000%. Itukah buah filosofi ‘menjadi kaya sambil tidur’?

Asetnya di pasar saham disebut-sebut bernilai triliunan rupiah. Ia mengoleksi sejumlah saham yang mampu mencetak keuntungan investasi (capital gain) hingga ratusan, ribuan, bahkan ratusan ribu persen. Tapi, jangan bayangkan pria berusia 52 tahun ini punya karakter dan penampilan glamour, agresif, dinamis, meledak- ledak, atau beradrenalin tinggi.

Lo Kheng Hong adalah pribadi yang bersahaja, sabar, rendah hati, kalem, bahkan terkesan dingin. Boleh jadi, pembawaannya inilah yang menjadikan Kheng Hong sukses sebagai investor di pasar saham.

Yang pasti, Kheng Hong tak hanya lihai memilih saham-saham yang mampu menghasilkan gain besar. Ia juga mahir memosisikan diri di lantai bursa, baik saat pasar bearish maupun bullish. Tapi Kheng Hong bukan tipe investor yang sepanjang hari memelototi pergerakan harga saham atau setiap saat mencermati perkembangan isu, rumor, dan berita di lantai bursa, dengan kewaspadaan ekstra tinggi. Ia juga tidak melengkapi diri dengan handphone canggih, laptop terkini, notebook, iPad, atau perangkat paling mutakhir sejenisnya.

Kheng Hong memang lebih memosisikan diri sebagai investor jangka panjang ketimbang investor jangka pendek atau trader. Mungkin, itulah sebabnya, kalangan praktisi pasar saham menjulukinya sebagai ‘Warren Buffett Indonesia’.

“Investor di pasar saham kebanyakan ikut-ikutan dan tidak mengerti saham apa yang dibeli. Kebanyakan orang panik karena mereka tidak tahu apa yang mereka beli. Semakin cepat panik seorang investor, semakin menunjukkan bahwa ia tidak tahu apa-apa,” kata Lo Kheng Hong kepada wartawan Investor Daily Nurfiyasari dan Abdul Aziz serta pewarta foto Eko S Hilman di Jakarta, baru-baru ini.

Bagi ayah dua anak ini, lebih menguntungkan menjadi investor jangka panjang dibanding menjadi trader. “Kalau trading, dapatnya receh dan bisa bikin stres. Kalau pegang saham dalam jangka panjang, dapat uangnya besar,” ujar Kheng Hong.

Kematangan, kecerdasan, ketenangan, dan kesabaran telah menjadikan Lo Kheng Hong sebagai pemain saham sejati. Berkat itu pula ia berhasil lolos dari krisis moneter 1997- 1998, bahkan kemudian menangguk keuntungan hingga 150.000%. ”Waktu krisis 2008, saya sempat jatuh. Malah sewaktu krisis 1997-1998, saya sempat jatuh hingga uang saya tinggal 15%. Tapi uang itu saya tukar ke saham. Akhirnya uang saya meningkat 150.000% sampai saat ini,” tuturnya.

Yang unik, aset kekayaan Lo Kheng Hong hampir seluruhnya dalam bentuk saham sejumlah emiten di Bursa Efek Indonesia (BEI). Ia sama sekali tidak tergoda untuk mendiversifikasi investasinya ke instrumen lain, seperti emas, properti, atau kendaraan Bahkan, mantan kepala cabang Bank Ekonomi ini sama sekali tak tertarik untuk mendirikan perusahaan, termasuk perusahaan sekuritas.

“Saya hanya punya 15% dana cash untuk jaga-jaga supaya kalau terjadi krisis saya masih punya uang untukmembeli saham. Saya tidak bekerja, tidak punya perusahaan, tidak punya pelanggan seorang pun, tidak punya karyawan seorang pun, dan tak punya bos. Hanya punya seorang sopir dan dua pembantu,” papar Lo Kheng Hong yang sudah 22 tahun bermain saham.

Apa saja tips Lo Kheng Hong hingga ia mampu mengeduk keuntungan besar dari pasar saham? Bagaimana harus bersikap saat pasar mengalami bullish, bearish, atau crash? Berikut petikan lengkap wawancara dengan pria yang mengaku berasal dari keluarga tak mampu dan kelak berniat menyumbangkan kekayaannya kepada fakir miskin tersebut.

Kenapa Anda tertarik bermain saham?
Saya tertarik bermain saham karena saham dapat memberikan keuntungan yang besar dan tidak capek seperti di sektor riil.

Apa enaknya menjadi investor saham?
Pertama, seorang pemain saham dapat menjadi orang yang terkaya di dunia, seperti Warren Buffett. Banyak orang yang tidak tahu dan tidak percaya. Mereka hanya tahu banyak orang yang rugi, orang kaya jadi miskin karena bermain saham, bahkan ada yang bunuh diri karena saham.

Kedua, seorang pemain saham punya banyak waktu, bebas, dan tidak dipusingkan oleh urus-mengurus karyawan, pelanggan, dan lain-lain. Di perusahaan, status investor saham adalah sleeping partner, sehingga waktu luangnya bisa diisi dengan hal-hal yang disukai.

Ketiga, semua keuntungan perusahaan menjadi milik pemegang saham, padahal yang bekerja keras adalah direksi, komisaris, manajer, dan seluruh karyawan, tetapi mereka hanya menerima gaji dan bonus. Mereka tidak punya hak untuk mendapatkan bagian dari keuntungan perusahaan. Memiliki perusahaan yang untung besar seperti memiliki mesin pencetak uang.

Sejak kapan Anda bermain saham?
Saya bermain saham sejak 1989, 22 tahun yang lalu. Saya dilahirkan dari keluarga yang berpenghasilan rendah. Orangtua hanya pegawai kecil. Saat tamat SMA, saya belum punya biaya untuk kuliah. Kemudian saya jadi pegawai tata usaha di bank, waktu itu saya disuruh-suruh untuk fotokopi dan lainnya. Kemudian saya bisa bekerja sambil kuliah. Saya pilih kampus yang murah sesuai kemampuan keuangan. Saat bekerja di bank itulah, saya mulai main saham. Saya sempat menjadi kepala cabang. Saya kemudian keluar dari bank dan fokus main saham.

Anda saat ini punya saham apa saja?
Saya punya saham sekitar 30 emiten, antara lain di Multibreeder Adirama Indonesia Tbk (MBAI), dengan kepemilikan 8,29% lebih. Saham saya banyaknya bukan di LQ45. Kepemilikan saya di saham lain di bawah 5%. Saya tipe investor jangka panjang.

Kalau trading, dapatnya receh, kalau jangka panjang dapat uangnya besar. Saya pegang saham ini sudah enam tahun. Saya beli tahun 2005 seharga Rp 250 dan harganya sempat menyentuh Rp 31.500. Belum saya jual, padahal gain-nya sudah 12.600%.

Cara Anda memilih saham?
Saya lihat manajemen. Apakah menerapkan good corporate governance (GCG) atau tidak. Saya cari dari kompetitornya, biasanya mereka tahu. Saya cari tahu agar tidak beli kucing dalam karung, karena ini menyangkut harta saya. Jangan membeli sesuatu yang tidak kita tahu. Lihat manajemen, apakah pengelolanya jujur atau tidak. Jangan sampai pengelolanya suka ambil uang perusahaan, sehingga saya sebagai sleeping partner dirugikan.

Istilahnya, yang menjadi pertimbangan pertama adalah manajemen, kedua manajemen, ketiga manajemen, baru yang lain. Kemudian lihat sektor usahanya, bagus atau tidak. Ada sektor yang kurang menarik, misalnya sepatu, tekstil, dan garmen. Tetapi ada juga yang menarik, seperti kelapa sawit dan pakan ayam.

Orang banyak makan ayam karena ayam merupakan sumber protein termurah dan dampak negatifnya terhadap kesehatan lebih rendah dibanding yang lain. Perhatikan juga apakah emiten bersangkutan mengalami pertumbuhan atau tidak.

Kriteria pertumbuhan, konkretnya seperti apa?
Ada empat tipe perusahaan. Pertama, perusahaan yang rugi terus, ada yang kadang untung, dan kadang merugi. Kemudian, perusahaan yang untung besar terus, tapi stagnan. Ada juga perusahaan yang growing secara berkala, misalnya dari Rp 2 triliun, Rp 5 triliun, dan seterusnya. Ini perusahaan yang baik dan yang saya cari. Lihat kinerjanya lima tahun ke belakang. Lihat masa lalunya.

Bagaimana jika lima tahun pertama tumbuh, tetapi lima tahun berikutnya ternyata turun?
Biasanya kalau lima tahun ke belakang tumbuh, ke depannya akan mengalami hal yang sama. Kalau sudah lima tahun berturut-turut growing, tandanya itu super company.

Setelah melihat fundamental emiten, apa lagi yang Anda perhatikan?

Harga. Saya lihat dari price to earning ratio (PER)-nya. Jangan bilang saham A karena harganya Rp 250 dibilang murah, dan saham B yang harganya Rp 70.000 dibilang mahal. Maksudnya, saham yang harganya Rp 70.000 bisa lebih murah dibanding saham yang harganya Rp 250. Kita lihat kemampuan emitennya dalam membukukan keuntungan.

Berapa PER yang ideal saat membeli suatu saham?
Saya pikir, yang reasonable untuk dibeli yaitu yang PER-nya di bawah lima kali, itu sangat menarik dan potensial. Tapi biasanya perusahaan yang sudah baik dan manajemennya bagus, PER-nya sudah di atas 10 kali.

Soal timing, kapan saat yang paling tepat untuk masuk pasar?

Yang paling bagus membeli saham adalah saat sedang krisis seperti di Yunani, Eropa, dan AS. Ada pepatah lama yang tidak perlu dilupakan, buy on weakness. Dan, harus be greedy when others are fearful dan sebaliknya, be fearful when others greedy.

Bukankah itu sulit diterapkan?
Saya banyak baca buku tentang Warren Buffett. Saya belajar dari orang yang sudah terbukti berhasil investasi di pasar saham. Dia sudah membuktikannya, bahkan menjadi salah satu orang terkaya di dunia. Nggak mungkin kan kalau saya belajar dari Bernard Madoff? Ha, ha, ha, ha...

Ternyata orang seperti Madoff, mantan bos bursa Nasdaq tapi tidak bisa mengelola uang nasabah. Ini menunjukkan bahwa dia hanya tahu semua peraturan di bursa saham, tetapi tidak mengetahui bagaimana cara menjadi kaya di pasar saham.

Berarti, kuncinya ada di mental?

Mental bisa bagus saat kita tahu apa yang kita beli. Kebanyakan orang panic karena mereka tidak tahu apa yang mereka beli. Ini pelajaran penting. Saya berikan ilustrasi. Waktu itu saya ke Harvard University, saya tanya biaya kuliah di sana berapa? Ternyata bisa sampai US$ 40.000, keluar dari sana semua jadi orang pintar. Dengan belajar seharga US$ 40.000, kita bisa menjadi orang pintar.

Tapi di pasar saham, kita sudah habiskan puluhan miliar rupiah belum tentu jadi pintar, malah bisa tambah bingung, seperti Madoff yang sudah menghabiskan uang masyarakat sebesar US$ 60 miliar, apakah dia menjadi pintar? Bisa saja di penjara dia berpikir, kenapa saham yang dibeli turun dan yang dijual justru naik.

Jadi, intinya pintar saja tidak cukup. Untuk menjadi investor yang kuat, kita harus mengetahui perusahaan satu per satu. Semua orang bisa seperti itu, asalkan mau baca. Bacalah laporan keuangan emiten satu per satu.

Jadi, Anda tipe investor fundamental?
Saya 100% fundamental karena lihat manajemennya atau pertumbuhan perusahaan. Kalau teknikal, hanya grafik, semuanya diabaikan. Saya yakin itu tidak benar. Tapi memang harus selektif. Dari 400-an saham yang ada di bursa domestik, cukup banyak yang fundamentalnya bagus. Terkadang, ada yang terjebak.

Anda tidak memantau pergerakan harga saham setiap saat?
Kenapa kita pusing? Karena kita beli saham yang tidak kita ketahui. Ada yang tidak bisa tidur karena PER sahamnya 100 kali atau 200 kali. Lalu, kenapa kita tidak bisa tidur kalau PER-nya hanya lima kali?

Bukankah investor sering terbawa arus karena faktor nonfundamental?

Saya lihat investor di pasar modal kebanyakan ikut-ikutan. Saat market mengalami booming, semua masuk. Saat market buang-buang saham, mereka ikut-ikutan. Mayoritas hanya ikut-ikutan dan tidak mengerti apa yang dibeli. Jadi, belajarlah dari orang yang memang sudah berhasil dan ikuti langkahnya. Jangan percaya saat ada iklan yang bilang dapat untung besar saat indeks turun. Kalau bisa seperti itu, hebat sekali. Bahkan, orang sekelas Warren Buffett saja, saat pasar saham AS turun, dia juga mengalami kerugian.

Anda berinvestasi pada instrument selain saham?
Tidak, hanya saham. Hampir semua uang saya ada di pasar modal. Dana tunai saya hanya 15%, sisanya portofolio saham. Kenapa saya sisakan segitu? Itu untuk antisipasi kalau pasar modal kita jatuh, sehingga saya masih bisa beli saham lagi.

Dari mana Anda membiayai kebutuhan hidup sehari-hari?

Saya bisa hidup dari dividen yang saya terima. Misalnya harga saham suatu emiten yang saya beli bulan lalu Rp 610, sekarang harganya Rp 2.375, kemudian saya jual. Awalnya saya berniat menahannya untuk jangka panjang. Tapi kalau untungnya sudah sampai 300% dalam sebulan, saya lepas. Untuk emiten yang bagus sekali, tetap saya keep untuk jangka panjang. Kalau emitennya kurang meyakinkan dan naiknya signifikan, lebih baik saya lepas.

Saat krisis moneter 1997-1998 dan krisis finansial 2008, Anda mengalami kerugian juga?
Saya sempat mengalaminya juga. Waktu krisis 2008, saya sempat jatuh, tapi tetap be greedy when others are fearful. Malah sewaktu krisis 1997-1998, saya sempat jatuh hingga uang saya tinggal 15%. Tapi uang itu saya tukar ke saham, karena saya tahu pasar modal akan naik lagi. Dan, itu terbukti. Akhirnya uang saya meningkat 150.000%.

Bagaimana Anda menyikapi perkembangan harga saham saat ini, terutama yang terkait dengan krisis utang di Eropa dan krisis finansial di AS?
Saat IHSG terkoreksi, wajar saja kalau nilai portofolio saya ikut turun. Tetapi ketika turun, saya sama sekali tidak ikut-ikutan menjual, bahkan saya membeli dan menambah saham saya, karena saya yakin satu hari saham-saham saya akan naik kembali, bahkan dapat lebih tinggi dari sebelumnya.

Apa filosofi hidup Anda?

Filosofi hidup saya adalah bagaimana saya bisa menjadi kaya sambil tidur. Karena di perusahaan status saya adalah sleeping partner, saya tidur tetapi saham-saham perusahaan saya bekerja buat saya secara dahsyat. Getting rich while sleeping. Saya pakai waktu saya delapan jam untuk tidur, selebihnya saya pakai untuk bersenang-senang dan mengerjakan apa yang saya sukai.

Sumber : Investor Daily

Jumat, 19 Agustus 2011

Simulasi Harga Minyak Indonesia Dengan Export

Berdasarkan data th 2008 kebutuhan minyak di indonesia per hari adalah 1,200,000 barrel/hari. Total Produksi minyak dalam negri 1,000,000 barrel/hari, dari 1,000,000 barrel/hari tsb dijual di dalam negri sebanyak 500,000 barrel dan 500,000 barrel lagi diexport ke luar negri. Dan indonesia mengimport minyak sebayak 700,000 barrel/hari untuk dijual di dalam negri. Saat ini tercatat harga minyak dunia $81.72/barrel dan kurs usd/idr Rp 8,570 dan harga premium yg disubsidi Rp 4,500/liter. Kita bisa liat simulasi laba/rugi penjualan minyak negara per hari pada tabel berikut :


Padan tabel diatas terlihat bahwa harga premium yang bernilai Rp4,500/liter terlihat mahal karna sama saja artinya bahwa pemerintah menjual dengan harga $83.49/barrel sementara harga minyak dunia saat ini $81.72/barrel. Saya tidak mengkritik murah atau mahalnya penjualan ke rakyat, saya cuma menekankan bahwa negara bisa untung sebanyak Rp 206,089,397,820/hari.

Senin, 01 Agustus 2011

Admg - Cotton - Poly

ADMG (http://www.polychemindo.com/main.php ) dan POLY ( http://www.asiapacificfibers.com/about_history.html ) adalah dua saham yg bergerak di sektor Poliuretana. ADMG adalah emiten yang dikenal memproduksi Poliuretana (bahan pembuat textile selain katun).apa itu Poliuretana, bisa dilihat disini http://id.wikipedia.org/wiki/Poliuretana. Poly adalah emiten yang memproduksi textile dan fibre dengan menggunakan bahan yang dibuat oleh ADMG. Jadi ke dua emiten ini saling berkaitan satu sama lain, ADMG sebagai pembuat bahan baku dan POLY sebagai consumennya. kedua emiten ini berkorelasi dgn harga katun. korelasinya adalah, disaat harga katun naik, maka para pemain textile akan beralih ke Poliuretana karena harganya lebih murah ketimbang harga katun sehingga bisa menekan harga produksi. Itulah sekilas tentang ADMG, Katun, dan POLY. Saat ini kita tidak fokus ke perusahaan tapi fokus kepada harga saham kedua emiten tsb dan harga katun.

ADMG


KATUN


POLY


Perhatikan saja arah dari garis yg berwarna biru dan merah pd grafik harga ADMG,KATUN, dan POLY. terlihat bahwa sama-sama memiliki arah yang sama meskipun tidak terlalu mengikuti pergerakan harga katun. seperti gerakan terakhir pd harga katun membuat tertinggi baru sejak 2003 tapi POLY tidak membuat harga tertinggi baru. Saat ini harga katun sudah mengalami penurunan harga, sehingga nantinya juga akan di ikuti oleh ADMG dan POLY. Itulah historis yang bisa dijelaskan berdasarkan data harga.

Kesimpulannya :
Prediksilah harga katun terlebih dahulu, jika harga katun membuat up trend maka admg dan poly jg akan membentuk up trend. jika harga katun membuat down trend maka admg dan poly juga akan membentuk down trend.

Senin, 27 September 2010

Gambaran perputaran Ekonomi

Fundamental Side :


Original Source: Matt Blackman, the EquiTrend Weekly Market Watch


kutipan dari : http://www.fxwords.com/f/fundamental-analysis.html

Teknikal atau psycologi Side :


source : http://wallstcheatsheet.com/

Jumat, 30 April 2010

PT Verena Oto Finance Tbk (VRNA.JK)



Pada gambar diatas dapat diliat bahwa setiap VRNA break out dari garis berwarna hijau suka naik dan kenaikan itu tercatat mencapai batas auto reject naiknya.tidak seberapa yg tidak menyentuh batas auto reject naiknya. Hari ini VRNA juga kembali break out dari garis hijau tetapi tidak naik, malah mendapatkan tekanan dari 104 ke 102.lansung diguyur 2 level harga sekaligus yg menandakan tekanan supply sangat kuat.
Dapat dilihat pada gambar berikut :


Gambar diatas merupakan pergerakan harga per 1 menit. Dalam 1 menit harga lansung turun 2 level yang menandakan kuatnya tekanan supply.
Beralih ke fundamental, emiten ini bergerak di sektor finance. laporan keuangannya menunjukan adanya rata-rata pertumbuhan dari tahun ke tahun dengan pertumbuhan sekitar 102%.
DATA ANNUAL DARI REUTERS >>>> ( http://www.reuters.com/finance/stocks/incomeStatement?symbol=VRNA.JK&perType=ANN&stmtType=INC )
DATA INTERM (QUARTER) DARI REUTERS >>>> ( http://www.reuters.com/finance/stocks/incomeStatement?symbol=VRNA.JK&perType=INT&stmtType=INC )
berdasarkan data diatas maka kita asumsikan untuk th 2009 EPS tumbuh sekitar 30% dengan alasan bahwa akumulasi EPS dlm 3 quartal berjumlah sekitar 11.25 sementara EPS th 2008 adalah 15.109, maka untuk quartal 4 EPS gak akan bergerak banyak jd wajar rasanya kita mengasumsikan untuk tahun 2009 EPS nya tumbuh 30% dimana secara rata-rata EPS dlm 5 tahun adalah 102%. berarti eps th 2008 yg 15.109 x 30% maka estimasi EPS 2009 adalah 19.64. Untuk valuasi harga ke depan kita tinggal mengalikannya dengan nilai PER 10x sebab pergerakan nilai PER dari tahun ke tahun (bukan quartal ke quartal) tercatat bergerak sekitar 5x - 10x. jadi hasil valuasinya adalah 19.64 x 10 = 196.42 perak.
nah itu salah satu permainan valuasi fundamental yg simple jd cari pertumbuhan eps dari tahun ke tahun lalu asumsikan pertumbuhan dengan X, nanti tinggal menanbah dan menguranginya saja untuk mencari arah naik maupun turun dari perkiraan EPS.
sesudah ini tinggal swing menggunakan TA, salah satunya untuk VRNA ini dengan membeli saat terjadi break out pd garis hijau untuk bermain cepat atau membelinya saat menyentuh moving average 120 hari, sebab harga saham vrna suka menjadikan moving average 120 hari sebagai supportnya.

Sabtu, 05 Desember 2009

Flash Back Oil indonesia


gambar ini mengingatkan kita pada keputusan pemerintah untuk menaikkan harga minyak th 2008 dgn alasan harga minyak dunia yg tinggi tapi setelah pemerintah menaikkan harga minyak , harga minyak mentah dunia malah turun. gambar ini saya copy paste punya orang lain.
source : http://ekonomiorangwarasdaninvestasi.blogspot.com

Kamis, 03 Desember 2009

The Commitment of Traders (COT)

Commitment of trader terdiri dari tiga bagian, yaitu:
1. The Commercial Traders (i.e. Farmers, Hedgers, Producers, and Factories)
2. The Large Speculators/large traders(i.e. Banks and Large Financial Money Managers)
3. The Small Speculators (i.e. You and me)
indikator ini bisa memberikan petunjuk, siapa yang membeli dan siapa yang menjual.

Contoh, Gold

lihat kotak paling bawah dari gambar diatas, ini lah indikator COT
cara membacanya adalah jika garis mana saja yang ada dalam kotak COT berada dibawah NOL (0) artinya mereka sedang dalam posisi jual dan jika berada diatas 0 artinya mereka sedang dalam posisi beli.
pada cot emas diatas dapat kita lihat bahwa commercial (garis biru) sedang dalam posisi jual yg sangat besar sejak tahun 2000 dan trend dari garis commercial terus menurun atau menjauhi nol. imbasnya pada harga adalah harga naik. disebabkan barang berpindah pada large trader (garis hijau), permintaan dari large trader membuat harga menjadi naik.
berdasarkan gambar diatas bisa kita ambil sebuah kesimpulan analisa bahwa jika garis commercial memiliki trend naik atau mendekati atau berada diatas nol, maka kita harus siap2 ambil posisi beli, atau dgn istilah "its time to buy". ini baru sekadar timing saja. untuk memutuskan diharga berapa kita membeli, barulah kita menggunakan teknikal analisis.
ini beberapa gambar lainnya:
oil


index us dollar


dari ketiga gambar diatas dapat disimpulkan bahwa commercial sedang membangun kekuatan posisi beli pada index US dollar dan large trader sedang dalam posisi jual. take ur potition in US dollar index after large trader line above the zero, yang nantinya bisa menyebapkan gold dan oil sebentar lagi akan jatuh.