Skema Investasi

Skema Investasi
Skema Investasi

Ekonomi Cycle

Ekonomi Cycle
Source : http://www.fxwords.com/f/fundamental-analysis.html

Indonesia InterBank Rate

Indonesia Total Car Sales

Indonesian 10Yr Bond Yield

Jakarta Stock Exchange

Fx Info Box

Fx Weekly Range

Fx Monthly Pip Banked

Kamis, 02 Januari 2014

Memahami Sebuah Perusahaan

5 element penting yang mesti dilihat pada sebuah perusahaan :
1.       Prospek umum jangka panjang perusahaan.
2.       Kualitas manajemen.
3.       Kekuatan keuangan dan struktur modal.
4.       Catatan pembayaran dividen (masa lalu).
5.       Tingkat pembayaran dividen saat ini.

Prospek umum jangka panjang perusahaan
Dengan mempelajari laporan keuangan selama 10 th atau 5 th kebelakang maka kumpulkanlah bukti untuk membantu anda menjawab dua pertanyaan utama :
1.       Apa yang membuat perusahaan ini tumbuh ?
2.       Dari mana laba (potensi laba) perusahaan berasal ?
Ada beberapa masalah yang harus kita perhatikan disaat mempelajari laporan keuangan :
1.       Perusahaan adalah pengakuisisi serial.
Dengan rerata akuisisi 2 atau 3 kali per tahun adalah tanda potensi masalah pada perusahaan tersebut. Logikanya adalah bahwa perusahaan tersebut lebih memilih berinvestasi pada perusahaan lain ketimbang berinvestasi pada diri sendiri. Periksa juga track record perusahaan di dalam melakukan akuisisi dan waspadalah terhadap perusahaan yang menelan banyak akuisisi besar, hanya untuk memuntahkannya kembali pada akhirnya. Kalau perusahaan bisa mendapatkan laba dari aksinya ini sih bagus tapi kalau tidak ?
2.       Perusahaan adalah pecandu OPM.
Meminjam uang atau menjual saham untuk mengumpulkan segunung uang orang lain.
Tindakan ini bisa membuat perusahaan sakit seolah-olah sedang tumbuh walaupun bisnis yang melandasi perusahaan sesungguhnya tidak bisa menghasilkan kas dalam jumlah cukup.
3.       Perusahaan adalah “ johny one note “.
Perusahaan yang bergantung pada satu atau segelintir pelanggan untuk sebagian besar pendapatannya. Jika perusahaan hanya memiliki 1 atau 2 pelanggan maka hal ini bisa membuat perusahaan berisiko jika pelanggannya lari tapi jika perusahaan memiliki 10 pelanggan dan yang lari hanya 2 maka masih ada sisa 8 pelanggan lagi untuk menciptakan pendapatan.
Saat anda mempelajari sumber pertumbuhan dan laba, tetaplah mencari poin positif dan negative. Sinyal yang baik diantaranya :
1.       Perusahaan memiliki parit pertahanan yang lebar atau keunggulan kompetitif. Sejumlah perusahaan bisa dengan mudah diserang oleh gelombang amukan pesaing, sementara sebagian lain nyaris tak bisa ditaklukan. Beberapa kompetitif adavantage bisa memperlebar parit pertahanan perusahaan seperti :
A.      Identitas merk (brand) yang kuat sampai-sampai pembeli produknya membuat tattoo logo perusahaan itu di tubuhnya.
B.      Monopoli atau nyaris monopoli di pasar.
C.      Kemampuan memasok barang atau jasa dalam jumlah sangat besar dengan harga murah.
D.      Aset tak berwujud yang unik yang resep rahasianya pada sirup dengan rasa khas tidak memiliki nilai fisik nyata namun tetap memiliki pelanggan yang tak terhitung jumlahnya.
E.       Perusahaan adalah pelari marathon dan bukan pelari jarak pendek. Dengan melihat kebelakang pada laporan laba rugi, anda bisa melihat apakah pendapatan dan laba bersih tumbuh dengan lancer dan mantap selama 10 th terakhir. Perusahaan yang bertumbuh terlalu cepat cenderung menjadi terlalu panas dan lalu terbakar.
F.       Jika laba atau pendapatan tumbuh 10 th terakhir pada kisaran 6%-7% maka tingkat pertumbuhan tersebut cenderung akan berlanjut. Namun target pertumbuhan 15% yang ditetapkan oleh banyak perusahaan terasa sangat tinggi karna nilainya 100% lebih tinggi dari rerata kisaran pertumbuhan yang sebelumnya bisa diraih oleh perusahaan. Ibaratnya seorang pelari rerata menempuh jarak 6-7 kilo se hari tapi pada suatu ketika ia mengikuti lomba lari dengan jarak 15 kilo dan hal ini jauh diatas kemampuan si pelari tersebut.
G.     Perusahaan menyemai lalu menuai. Tak peduli seberapa bagus produknya atau seberapa kuat merknya, sebuah perusahaan harus membelanjakan sejumlah uang untuk mengembangkan bisnis baru. Walaupun pengeluaran bagian riset dan pengembangan bukan merupakan sumber pertumbuhan hari ini tapi hal itu bisa menjadi sumber di masa depan terutama jika perusahaan memiliki bukti catatan adanya usaha peremajaan bisnisnya dengan berbagai gagasan dan peralatan baru. Sebagai contoh pada tahun 2002 perusahaan procter and gamble menghabiskan sekitar 4% dari pendapatannya utnuk riset dan pengembangan, sementara perusahaan 3M membelanjakan 6.5% dan Johnson and Johnson 10.9%. Dalam jangka panjang, perusahaan yang tidak mengeluarkan sepeserpun untuk riset dan pengembangan sama rentannya dengan perusahaan yang membelanjakan terlalu banyak.

Kualitas manajemen
Executive perusahaan harus mengatakan :
1.       Apa yang akan mereka kerjakan.
2.       Mengerjakan apa yang mereka katakana.
Bacalah laporan keuangan tahun-tahun sebelumnya untuk melihat ramalan apa yang dibuat oleh para manajer dan apakah mereka berhasil atau gagal mencapainya. Manajer harus dengan jujur mengakui kegagalannya dan bertanggung jawab atasnya.
Alih-alih menunjuk kambing hitan serbaguna seperti kata “ekonomi”, “ketidak pastian”, atau “kelesuan pasar”. Periksa apakah nada dan substansi kata pengantar dari pimpinan tetap konstan atau berfluktuasi. Dua pernyataan ini juga membantu anda menentukan apakah orang-orang yang menjalankan perusahaan akan bertindak berdasarkan kepentingan orang-orang yang memiliki perusahaan.

Membaca catatan kaki sebuah laporan keuangan yang biasanya terletak pada halaman-halaman belakang dari sebuah laporan keuangan untuk melihat ulasan, yang pada biasanya berisi mengenai hutang, opsi saham, pinjaman kepada pelanggan, cadangan terhadap kerugian, dan factor-faktor resiko yang bisa menggerogoti laba.

Disadur dari buku "The Intelligent Investor" karangan Benjamin Graham.

Minggu, 15 Desember 2013

Trader sukses dan Trader gagal

Berdasarkan email dari salah satu mailing list yang dikelola oleh pak irwan ariston bernama yahoogroups SAHAM yang di postkan oleh membernya bernama TOBENO bisa memberikan sebuah pandangan yang penting. Berikut isi emailnya :

From    : tobeno2@yahoo.com
subject : [SAHAM] Hi...New Trader
to         : saham@yahoogroups.com

Dari sebuah komuitas trader India dimana saya menyusup ke dalamnya, diperoleh artikel berikut dan saya terjemahankan dengan terbata-bata lalu saya ringkas dengan gaya suka-suka. Aslinya dapat diintip melalui tautan ini:
http://newtraderu.com/?p=2711


Ada 4 tahapan dalam karir seorang trader.

1. Newbie: where you know nothing
2. New trader: where you know something but make nothing
3. Good trader: where you make some money
4. Rich trader: where you no longer trade just for money because you have plenty.

Adalah bahaya bagi new trader yang merasa mereka sudah berada pada tahapan lebih tinggi karena akan terlalu berisiko atas trading yang dilakukan, dan setiap trading size besar akan menyebabkan ketidak-stabilan emosi mereka.

Adalah penting untuk mengetahui kita berada pada tahapan yang mana.

Berikut 10 ciri sebenarnya Anda masih new trader:

1. Tidak paham risk management and psychology trading.
2. Selalu mencari the Holy Grail of trading, sebuah teknik tanpa loss.
3. Tidak tahu bahwa best trader pun mengalami serangkaian kerugian, baik mingguan, bulanan, bahkan ada tahun-tahun rugi. Mereka pikir, rich traders selalu menang.
4. Selalu mencari saham apa yang akan naik atau turun, bukannya fokus pada mekanisme trading.
5. Memberikan tips cuma-cuma kepada orang lain. Good trader memiliki prinsip setiap keputusan berdasarkan pertimbangan pribadi dan tidak membagikannya sebagai tips.
6. Mencari sebuah kemenangan yang besar dan memasukkan semua kapital ke dalamnya. Good trader trading dengan sistem yang baik dengan maksimum risk 1% per trade.
7. Sering keliru antara bull market dan skill.
8. Keliru antara keberuntungan dan skill.
9. Mereka menginginkan advis. Good trader menginginkan sistem yang handal.
10. Mereka pindah dari satu metode ke metode lain, dari satu mentor ke mentor lain, setiap mengalami kerugian. Good trader tahu secara persis, siapa mereka, dan apa metode yang mereka gunakan.

Have a sweet Sunday.

-------------------------------------
"Trading is war. Prepare your weapons, now!"

Much success,
tobeno

Dari email pak tobeno diatas bisa ditarik kesimpulan bahwa trader sukse selalu memikirkan keamanan dan kenyamanan dengan tenang sementara trader gagal suka membabi buta. Meskipun trader sukses juga mengalami kerugian seperti yang disebutkan pada point 3 tapi pada akhirnya bisa dikatakan bahwa trader sukses akan melihat keseluruhan metode lalu memilih metode mana yang akan digunakan sehingga terbentuk satu system yang bisa membuat mereka aman, nyaman dan tidak terburu-buru.
Saya berfikir email dari pak tobeno ini sangat berguna bagi kelansungan bisnis anda.

Terima Kasih pak tobeno

Senin, 09 Desember 2013

Skenario 3 tahun atau 5 tahun ke depan

Mengingat kembali tentang tulisan " Pembacaan ekonomi makro secara garis besar " dimana inflasi dan deflasi menjadi pokok pegaturan perputaran roda perekonomian yang bisa berimbas pada instrument investasi. Ada baiknya kita mengingat kembali dimana :

Bagan Ekonomi

Pada gambar "Bagan Ekonomi" terdapat beberapa item, yaitu inflasi, suku bunga acuan (SBI), yield obligasi 10th keatas, index saham, currency (kurs), dan harga obligasi. Ini semua adalah system perjalanan dari investasi atau bisnis. Acuan dasarnya adalah inflasi, jd apakah yang terjadi jika inflasi naik dan apa yang terjadi jika inflasi turun ? system ini menjelaskan pada kita. jika garis-garis pada gambar mengarah ke atas berarti naik dan jika mengarah ke bawah berarti turun. Sebagai contoh, jika inflasi naik maka suku bunga acuan akan ikut naik dan yield obligasi juga akan ikut naik dan imbas lainnya index saham akan turun, kurs akan melemah, dan harga obligasi juga ikut turun.
Jika seandainya inflasi saat ini tetap tapi yield obligasi malah naik, ini merupakan akibat dari asumsi partisipan bahwa ke depannya akan terjadi inflasi yang cukup tinggi. Dan begitu juga sebaliknya, jika inflasi saat ini tetap tapi yield obligasi malah turun maka asumsi partisipan bahwa ke depannya akan terjadi deflasi yang cukup tinggi.

Sekarang mari kita lihat apa yang terjadi pada dunia melalui data-data index dan inflasi dunia.

Inflasi Dunia, USA, dan Indonesia

Gambar inflasi diatas diambil dari Data World Bank. Dari tahun 2008 terjadi penurunan inflasi di dunia dan tahun 2012 pun terjadi penurunan lagi. Itu sebabnya ekonomi indonesia jadi melambat karna dunia pun melambat. Bagaimana efeknya ke instrument lain ?

Instrument dalam bentuk candlestick

Instrument dalam bentuk line

Instrument dalam bentuk percent

BIRU         = INDEX DUNIA
HIJAU       = HARGA OBLIGASI DUNIA
UNGU       = INDEX KOMODITI DUNIA
PINK         = INDEX US DOLLAR
TURQOIS = HARGA EMAS DUNIA
MERAH    = IHSG
HITAM      = S&P 500
HIJAU TERANG = MINYAK
UNGU TERANG = PERTANIAN

Dasar ketiga gambar diatas adalah gambar "Instrument dalam bentuk candlestick". Pada gambar "Instrument dalam bentuk line" candlestick yang ada pada "Instrument dalam bentuk candlestick" dirubah menjadi line agar pergerakannya mudah dicerna. Lalu pada gambar "Instrument dalam bentuk percent" semua pergerakan dihitung dalam persentase sejak QE1 dilaksanakan, dihitung per ITEM sejak QE1 hingga data terakhir pada gambar sehingga terlihat mana pertumbuhannya yang paling banyak.

Gambar instrument-instrument diatas menjelaskan kepada kita bahwa setelah krisis 2008 dan USA melakukan pencetakan uang melalui QE1 maka berimbas kepada dunia dimana USA meng-export uangnya ke seantero dunia yang mengakibatkan harga obligasi naik, index saham dunia naik, index komoditi naik, harga emas naik, IHSG naik, dan S&P 500 juga naik. Tapi index US dollar melemah yang artinya mata uang selain US Dollar menguat. Kenapa dollar melemah dan index saham USA malah naik ? bukannya jika kurs melemah maka saham pun melemah ?
Ini bukti bahwa USA melakukan " Wealth Transfer " atau transfer kekayaan. USA melakukan pencetakan uang dan uang-uang tersebut di export ke seantero dunia untuk menaikkan perekonomiannya yang nantinya bisa kita lihat di USA akan terjadi inflasi.
Trend pergerakan terakhir dari index US Dollar (garis pink) menunjukan adanya penguatan dan jika dalam 5 th ke depan index usd menguat (naik banyak) atau USDollar ditarik secara besar-besaran maka kita tahu bahwa pasar dunia atau ekonomi dunia akan jatuh lagi dan dunia akan krisis. Yang jelas sebab krisis ke depannya adalah USA menarik lagi uang (dollar) yang telah mereka export ke seantero dunia untuk memperkuat ekonominya dari laba yang mereka dapatkan dari aksi transfer kekayaannya tapi bagaimana caranya saya pun belum tahu dan hal tersebut berkemungkinan akan terjadi sebab sejarahnya selalu seperti itu dan terus-terusan berulang hingga sekarang.
Index USDollar

Jika krisis ini datang dalam 5 tahun ke depan maka kita mesti konvert aset-aset kita kedalam bentuk usd atau emas dengan nilai rupiah. Begitu keadaan krisis mulai mereda maka perlahan-lahan kita masuk ke obligasi dan hasil obligasi kita bawa masuk ke pasar saham (berarti bisnis real akan ikut bergerak) . Sesuai dengan gambar "bagan ekonomi".
Tapi untuk beberapa masa, ya katakanlah dalam 2 tahun ke depan sepertinya USDollar belum akan ditarik masuk ke USA secara besar-besaran karna index usdollar keluar dari trend naiknya dan berkemungkinan USA masih akan terus melanjutkan proyek transfer kekayaannya sehingga market masih bisa bernafas untuk sesaat.

Persiapkan diri untuk menghadapi krisis yang berkemungkinan akan terjadi 5 tahun ke depan, jangan panic, stay focus dan review terus perubahan-perubahan yang terjadi sehingga kita tidak "stuck" atau menjadi bias dengan pemahaman kita.

Rabu, 20 November 2013

Pengaturan Resiko Portfolio

Pada catatan kali ini bertema tentang resiko investasi yang artinya mengatur kerugian pada portfolio berdasarkan pandangan " cash is king " dimana jika "kekeringan uang" maka bisnis akan stop dan kondisi ini disebut dengan "cash bleeding". Berdasarkan keyakinan saya tentang "ketidak pastian" dimana didunia ini tidak ada yang "pasti" maka pengaturan cash akan menjadi pokok pemikiran supaya tidak terjadi "cash bleeding". Saya beranggapan bahwa pengaturan cash akan berefek pada laba dan rugi. Banyak sekali para pebisnis yang menyatakan "two percent mistake" dan hal ini yang mengilhami saya didalam mengatur cash dimana kesalahan yang sanggup saya tanggung hanyalah 2% dari total aset atau dari portfolio. Sebagai contoh portfolio berjumlah Rp 50.000.000 dan berarti kesalahan yang sanggup saya tanggung adalah
Rp 50.000.000 x 2% = Rp 1.000.000. Setiap aset yang dimiliki hanya boleh menanggung kerugian 2% atau sebesar Rp 1.000.000 dari total aset. Penjelesan lebih lanjut bisa dilihat pada gambar ini.


Nilai portfolio sama, yaitu Rp 50.000.000 dan nilai kerugian yang sanggup ditanggung juga sama, yaitu 2%.
pada kolom "lambat" menyatakan bahwa portfolio hanya sanggup menanggung kerugian sebesar Rp 1.000.000 tapi mampu kehilangan seluruh modal yang dialokasikan untuk per masing-masing saham.
misal kita membeli saham A sebesar RP 1.000.000 dan saham B sebesar Rp 1.000.000 lalu saham A rugi 100% dan saham B tetap. Berarti kerugian yang kita tanggung hanya sebesar Rp 1.000.000 saja.
Masing-masing kolom akan berefek kepada tingkat kenyamanan dimana semakin lambat akan semakin nyaman dan semakin cepat akan semakin tidak nyaman dan akan mempengaruhi pertumbuhan portfolio dimana kolom lambat mengalami pertumbuhan yang lambat, kolom sedang akan mengalami pertumbuhan yang sedang dan kolom cepat akan mengalami pertumbuhan yang cepat pula. Saya sendiri banyak menggunakan kolom sedang karna karna tingkat kenyamanannya tidak terlalu jelek dan tingkat pertumbuhannya juga tidak terlalu jelek atau bisa disebut rata-rata.
jika menggunakan kolom "lambat" maka artinya kita siap menanggung penurunan per masing2 saham sebesar 100% tapi hanya sanggup menanggung penurunan portfolio sebesar 2%. Pada kolom "lambat" ini kita akan memiliki 50 buah saham yang berbeda-beda dengan rumus {total portfolio / nominal kerugian portfolio yang sanggup ditanggung}. Rp 50.000.000 / Rp 1.000.000 = 50 buah saham yang berbeda.
Pada kolom "lambat" kita hanya sanggup menanggung kerugian 2% portfolio dan sanggup menanggung 100% kerugian per masing-masing saham dengan pengalokasian dana per saham sebesar Rp 1.000.000 dan kita akan memiliki 50 buah saham yang berbeda.
Pada kolom "sedang" kita hanya sanggup menanggung kerugian 2% portfolio dan sanggup menanggung 10% kerugian per masing-masing saham dengan pengalokasian dana per saham sebesar Rp 10.000.000 dan kita akan memiliki 5 buah saham yang berbeda.
Pada kolom "cepat" kita hanya sanggup menanggung kerugian 2% portfolio dan sanggup menanggung 5% kerugian per masing-masing saham dengan pengalokasian dana per saham sebesar Rp 20.000.000 dan kita akan memiliki 3 buah saham yang berbeda.
Bisa disimpulkan bahwa kolom "cepat" akan memberikan rasa tidak nyaman karna dengan penurunan 5% akan membuat kita kehilangan 2% dari portfolio tapi jika harga sahamnya melesat cepat maka kolom "cepat" ini akan memberikan kontribusi yang besar kepada portfolio yang artinya portfolio akan bertumbuh dengan cepat.
Dalam pengamatan saya selama ini setiap penurunan 10% dari harga akan membutuhkan waktu yang lumayan lama untuk bisa kembali naik ke harga yang lebih tinggi atau bahkan bisa terus menurun ke level yang jauh lebih rendah.

Selasa, 22 Oktober 2013

Sabtu, 19 Oktober 2013

Selasa, 20 Agustus 2013

Menyikapi Kenaikan Imbal Hasil Obligasi Global

Sumber : Uni Sosial Demokrat (Oleh: Budi Susanto)


Pasar obligasi global tersentak ketika Bank Sentral di beberapa negara, seperti Selandia Baru, Eropa, dan Afrika Selatan menaikkan suku bunga tanpa terduga sebelumnya pada awal Juni lalu. Apalagi, pada saat yang bersamaan pelaku pasar di AS memperkirakan The Fed tidak akan menurunkan suku bunga sepanjang tahun 2007 ini.
Pasar obligasi Indonesia tidaklah imun terhadap berbagai perkembangan global tersebut. Bagaimana sebaiknya investor menyikapi situasi ini?
Pada pertengahan Juni 2007 terjadi gejolak penurunan harga obligasi hampir di seluruh negara. Penurunan tersebut dipicu kekhawatiran peningkatan laju inflasi di berbagai negara akibat pertumbuhan ekonomi yang tinggi. Laju inflasi yang tinggi dikhawatirkan akan memicu kenaikan suku bunga secara global sehingga harga obligasi di pasar global terkoreksi.

Conundrum di pasar obligasi AS telah berakhir. Normalisasi imbal hasil (yield) jangka panjang tengah berlangsung seiring dengan peningkatan yield obligasi global.
Secara teoretis, pada saat suku bunga The Fed cenderung meningkat, bentuk kurva yield yang normal adalah yang mempunyai slope positif. Artinya, yield jangka panjang lebih tinggi dari yield jangka pendek. Ada berbagai hipotesis yang menjelaskan bentuk kurva yield normal ini. Salah satunya adalah hipotesis ekspektasi. Hipotesis ini mengatakan bahwa bentuk kurva yield dibentuk oleh ekspektasi terhadap suku bunga di masa datang.
Bentuk kurva normal menggambarkan ekspektasi akan terjadi kenaikan tingkat bunga jangka pendek (The Fed Funds rate) di masa datang yang ditimbulkan oleh kebijakan moneter yang lebih ketat untuk mengendalikan laju inflasi.
Sebaliknya, kurva yield yang memiliki slope negatif (inverted), yakni saat yield jangka panjang lebih rendah dari yield jangka pendek, menggambarkan bahwa pasar memperkirakan suku bunga akan turun (karena perkiraan ekonomi melambat atau akan memasuki masa resesi sehingga dibutuhkan stimulus dari sisi moneter dalam bentuk penurunan suku bunga). Jadi, dalam keadaan yang normal, kemiringan kurva yield akan searah dengan arah pergerakan suku bunga jangka pendek, terutama The Fed.
Situasi di mana yield jangka panjang surat utang Pemerintah AS (US-Treasury) lebih rendah dari yield jangka yang lebih pendek (padahal ketika itu The Fed masih menaikkan suku bunga) yang pernah terjadi di pasar obligasi AS amat bertentangan dengan teori yang disebutkan di atas sehingga oleh Greenspan disebut sebagai sebuah conundrum. Artinya, sesuatu yang membingungkan. Conundrum seperti ini tidak terjadi di pasar obligasi Indonesia, paling tidak selama dua tahun terakhir.
Conundrum terjadi karena pelaku pasar AS bertaruh bahwa penaikan suku bunga akan segera membawa ekonomi AS memasuki masa resesi sehingga suku bunga akan segera turun dalam waktu dekat. Namun, pelaku pasar obligasi di AS telah merevisi pandangan mengenai kebijakan moneter the Fed.
Optimisme bahwa suku bunga di AS akan diturunkan dalam waktu dekat tampaknya sudah tidak menjadi pandangan umum lagi. Selama paruh pertama 2007, kita melihat yield jangka panjang US-Treasury mengalami peningkatan yang signifikan, sementara yield jangka pendek sebaliknya mengalami penurunan.
Dampak ke pasar domestik
Pasar obligasi Indonesia tidak terpisahkan dari perubahan yang terjadi di pasar global karena sistem keuangan Indonesia saat ini memiliki derajat keterbukaan yang lebih tinggi di bandingkan masa lalu. Hal ini dapat dilihat pada pergerakan obligasi pemerintah berjangka waktu 10 tahun antara Indonesia dan AS yang memiliki arah pergerakan yang relatif sama. Ketika yield US-Treasury mengalami lonjakan pada tanggal 7 Juni 2007 akibat kenaikan suku bunga di beberapa negara, keesokan harinya (8 Juni) yield obligasi surat utang negara (SUN) Indonesia mengalami kenaikan tajam juga. Tetapi untungnya tekanan kenaikan yield di pasar obligasi rupiah cepat mereda karena investor cepat menyadari situasi di Indonesia tidak sama dengan yang terjadi di AS.
Apakah persamaan dan perbedaan antara pasar obligasi di Indonesia dan di AS?
Persamaannya, investor di Indonesia dan AS sama-sama telah melakukan valuasi dengan menggunakan tingkat bunga yang diekspektasi akan turun. Artinya, ekspektasi penurunan suku bunga telah di-price in di dalam pembentukan harga obligasi di pasar sehingga harga obligasi mengalami kenaikan pesat sehingga yield tertekan ke bawah. Tidak mengherankan harga obligasi mengalami rally yang panjang di kedua negara dalam waktu lebih dari satu tahun sampai dengan awal tahun 2007.
Hubungan harga dan yield obligasi adalah berbanding terbalik. Jika harga naik, yield obligasi akan turun.
Ketika ekspektasi penurunan suku bunga The Fed tampaknya tidak akan terealisasi (paling tidak di tahun 2007), pelaku pasar menghitung ulang harga US-Treasury dengan menggunakan suku bunga yang telah direvisi. Pasar memperkirakan The Fed tidak akan menurunkan suku bunga dalam waktu dekat akibat pertumbuhan ekonomi AS masih tinggi sehingga berpotensi memicu tekanan inflasi.
Beruntung pergerakan suku bunga di Indonesia dan AS berbeda arah. Dengan laju inflasi yang cenderung menurun, suku bunga acuan (BI Rate) diperkirakan masih berpeluang turun. Jadi, investor obligasi rupiah tidak perlu merevisi valuasi harga obligasi karena ekspektasi penurunan suku bunga diperkirakan akan terealisasi. Perbedaan inilah yang diperkirakan akan membuat arah pergerakan yield obligasi di AS dan di Indonesia berbeda. Jadi, yield US-Treasury diperkirakan tidak akan banyak turun dalam beberapa bulan ke depan, sedangkan yield obligasi SUN masih berpotensi mengalami penurunan.

Dengan demikian, walaupun harga obligasi rupiah sempat terhuyung oleh imbas kenaikan yield global, namun kenaikan tersebut diperkirakan terbatas. Dan jika ditelaah lebih teliti, yield obligasi saat ini tidak lebih tinggi dari level angka dua bulan lalu. Patut dicatat juga bahwa kenaikan yield tidak mengangkat yield obligasi rupiah ke level yang tertinggi. Kenaikan yang terjadi lebih tepat dikatakan sebagai koreksi terhadap penurunan yield yang sangat cepat yang terjadi selama dua tahun terakhir.
Sikap investor obligasi
Bagaimana seharusnya investor merespons kenaikan yield obligasi yang terjadi belakangan ini? Ada dua hal yang perlu kita perhatikan. Pertama, perhatikan fakta bahwa ketika yield naik berarti harga turun. Jadi, harga obligasi saat ini relatif lebih murah dibandingkan dengan sebelumnya. Bagi investor yang selama ini menilai harga obligasi sudah terlalu tinggi, mungkin sekarang saatnya untuk mengalokasikan dananya kembali ke obligasi. Harga yang lebih murah tentunya menawarkan potensi imbal hasil yang lebih menarik.
Hal yang kedua yang perlu diperhatikan adalah arah pergerakan pasar obligasi. Dengan prospek BI Rate masih akan menurun dengan kisaran sebesar setengah sampai satu persen lagi dalam tahun ini, maka investor yang telah memiliki obligasi rupiah di dalam portofolio investasinya tidak perlu panik.
Menurut perhitungan kami, kenaikan yield yang terjadi kini hanya bersifat sementara, terutama untuk obligasi berjangka panjang (lebih dari 10 tahun).
Sebagai contoh, yield obligasi berjangka waktu 10 tahun (saat ini 8,95 persen) memberikan premi sebesar 0,45 persen di atas BI Rate. Angka ini lebih baik dari US-Treasury 10 tahun yang memberikan yield 5,08 persen, yang bahkan lebih rendah dari Fed Fund Rate saat ini sebesar 5,25 persen. Pada saat BI Rate turun, maka premi yang diberikan obligasi SUN akan menjadi lebih besar sehingga diperkirakan akan mendorong kenaikan harga obligasi kembali.
Jadi, investor obligasi tidak perlu panik terhadap kenaikan yield obligasi. Investor yang mendapat imbal hasil yang baik secara konsisten biasanya adalah mereka yang berkepala dingin dan bijak dalam berinvestasi.


URL Source: http://kompas.com/kompas-cetak/0707/02/ekonomi/3646358.htm

Budi Susanto Head of Fixed Income Research-Danareksa Sekuritas

Senin, 01 Juli 2013

Kenaikan BBM 44.44%

Kemaren ini pemerintah menaikkan harga BBM bersubsidi lagi sebesar 44.44% dari 4500 menjadi 6500 untuk premium.
Kenaikan bbm ini banyak dikhawatirkan oleh banyak pihak termasuk oleh partai-partai oposisi bahwa akan memicu kenaikan harga yang diluar kendali. Mari kita lihat faktanya setelah kenaikan bbm beberapa masa lalu.

sejarah kenaikan BBM subsidi di indonesia
 

Terlihat pada 24 mei 2008 premium naik dari 4.500 menjadi 6.000 naik cuma 33.33%, sementara juni 2013 premium naik dari 4.500 menjadi 6.500 atau naik sebesar 44.44%. kenaikan premium th 2013 lebih besar dari kenaikan premium mei 2008.

Efek dari kenaikan bbm th 2008
Inflasi mei 2008 tercatat 8.96% dan terus naik hingga mencapai 12.14% pada oktober 2008.

Efek dari kenaikan bbm th 2013
Inflasi juni 2013 tercatat 5.9% sementara kenaikan premium premium subsidi 2013 jauh lebih besar dari kenaikan premium 2008. Kenaikan premium yang besar ini belum mampu mendongkrak inflasi keluar dari jalur 10% seperti th 2008.
CPI indonesia
CPI indonesia sendiri selama tahun 2013 untuk sementara waktu turun dari 138.78 hingga 138.6 ini menandakan Deflasi mulai menggerogoti harga-harga di indonesia.Semoga saja tekanan deflasi dari luar tersebut tidak semakin parah dan inflasi pun juga tidak parah keluar dari jalur 10%.

Rabu, 19 Juni 2013

Time Frame 6 Bulan Komoditi, Mata uang, Obligasi, dan Saham

Pembagian lainnya kepada time frame dari grafik harga adalah time frame 6 bulan yang artinya kita membagi masa waktu menjadi 6 bulan yang terhitung sejak awal tahun dan dipisah per 6 bulan. Awal Januari hingga akhir Juni adalah time frame 6 bulan pertama atau disebut dengan 1H dan awal Juli hingga akhir Desember adalah time frame 6 bulan ke dua atau disebut dengan 2H.

Seperti pada gambar Eur/Usd berikut dimana awal tahun atau awal periode 1H ditandai oleh garis vertical berwarna kuning dan awal periode 2H ditandai oleh garis vertical berwarna merah.


Time frame 6 bulan ini memiliki karakter wajarnya, yaitu dimana jika harga 6 bulan sebelumnya harga up trend maka kemungkinannya pada 6 bulan berikutnya harga akan down trend atau stagnan.
Dan jika 6 bulan sebelumnya harga down trend maka kemungkinannya pada 6 bulan berikutnya harga akan up trend atau stagnan.
Kita mesti ingat juga bahwa pergerakan harga itu ada 3 jenis, yaitu Up trend, Down trend atau Stagnan.
Time frame 6 bulan ini juga memiliki karakter tidak wajarnya, yaitu jika 6 bulan sebelumnya harga up trend dan pada 6 bulan berikutnya harga terus up trend melewati titik puncak 6 bulan sebelumnya maka berkemungkinan harga akan terus rally up trend.
Dan jika pada 6 bulan sebelumnya harga down trend dan pada 6 bulan berikutnya harga terus down trend melewati titik terendah 6 bulan sebelumnya maka berkemungkinan harga akan terus rally down trend.


Garis horizontal berwarna BIRU menandakan titik puncak trend pada masa 6 bulan.
Garis horizontal berwarna PINK menandakan titik terendah trend pada masa 6 bulan.

Oleh sebab itu kita mesti tau 6 bulan sebelumnya harga up trend atau down trend atau stagnan.
Jika stagnan tentunya harga berkemungkinan akan up trend jika menembus titik puncak stagnansi 6 bulan sebelumnya atau harga berkemungkinan akan down trend jika harga menembus titik terendah stagnansi 6 bulan sebelumnya. Hal ini jika harga mengalami stagnansi pada 6 bulan sebelumnya.



Kamis, 02 Mei 2013

Pasar Obligasi Akan Di Buru Investor

Akhir-akhir ini emas mulai membentuk tren turun yang disebabkan mulai banyak orang mencairkan aset yang dianggap likuid karna mulai kekurangan uang. Beberapa pekan sebelumnya emas turun 5% dalam sehari, itu angka penurunan yang sangat fantastis untuk hitungan 1 hari pada pasar komoditi, index saham, mata uang, dan obligasi.
Mengingat pada postingan sebelumnya Tentang Uang dimana emas dibandingkan dengan perak. Yang pernah tercatat sepengetahuan saya pembandingan emas dengan perak dimana nilainya 1:10 ada pada zaman kejayaan islam. Saat ini tentunya nilai tersebut tidak 1:10 lagi tapi sudah berubah-rubah bahkan pernah 1:89 pada tahun 1990 yang artinya nilai emas terhadap perak mahal sekali dan pada saat ini perbandingannya adalah 1:60.


Sekarang mari kita lihat pembandingan antara emas dengan obligasi, emas dengan saham, dan obligasi dengan saham. Saya tidak menunjukan nilainya tapi trennya.
Data index obligasi dunia dapat dilihat pada SPDR Barclays International Treasury Bd atau iShares Barclays 10-20 Year Treasury Bd dan data index saham dunia dapat dilihat pada iShares MSCI Emerging Markets Index.

Rumus
1. Emas dan perak = emas / perak (tren naik, emas mahal. tren turun, emas murah)
2. Emas dan obligasi = emas / obligasi (tren naik, emas mahal. tren turun, emas murah)
3. Emas dan saham = emas / saham (tren naik, emas mahal. tren turun, emas murah)
4. Obligasi dan saham = obligasi / saham (tren naik, obligasi mahal. tren turun, obligasi murah)


Pada gambar diatas bisa disimpulkan bahwa terhadap apa pun emas tergolong masih mahal meskipun harga sudah turun lumayan banyak sempat turun sebanyak 30% dari puncaknya yang di capai pada bulan September 2011 dan terendah sementara pada bulan April 2013. Sudah turun banyak tapi belum cukup banyak. Pasar komoditi masih akan menghadapi guncangan-guncangan.
Sehari sebelum tulisan ini dibuat banyak berita mengenai index saham negara philipina yang dikatakan index sahamnya naik hebat dikarenakan negaranya sudah masuk investment grade, akibatnya index saham philipina mencetak rekor tertinggi baru yaitu 7.000 . Ini menandakan bahwa investor masih merasa nyaman dengan pasar saham.
Melihat gambar diatas sepertinya pasar saham pun mulai di ujung tren kenaikannya, obligasi/saham menurun terus trennya yang menandakan obligasi lebih murah dari saham. Inilah kenapa judul postingan ini pasar obligasi akan diburu investor. Tentunya negara yang akan menerbitkan obligasi adalah negara-negara yang sedang bermasalah seperti Amerika dan Euro, bagaimana dengan Asia? jika asia pun bermasalah maka asia juga akan mengambil tindakan yang sama, yaitu menerbitkan obligasi.