catatan analisa investasi financial yang ditujukan untuk konsumsi pribadi bukan untuk memberikan rekomendasi.
Indonesia InterBank Rate
source: tradingeconomics.com
Indonesia Total Car Sales
source: tradingeconomics.com
Indonesian 10Yr Bond Yield
USD/IDR
Jakarta Stock Exchange
Fx Weekly Range
Jumat, 30 Januari 2015
Kamis, 29 Januari 2015
Rabu, 28 Januari 2015
Potensi yang masih tersimpan pada KIJA
Kija memberi signal adanya akumulasi pada grafik 60 menit tapi pada saat ini kondisi harga kembali masuk kedalam BOX nya. Belum ada tanda harga keluar dari batas box bawah sehingga untuk sementara KIJA masih menyimpan potensi namun kami tidak berminat lagi terhadap KIJA karna bukan ini saham yang kami cari. Saham yang kami cari adalah saham yang berhasil menembus batas box atas dengan tidak kembali lagi kedalam masuk box.
Label:
Grafik 60 menit,
KIJA,
Teori Teknikal Analisis,
Turun
Sabtu, 24 Januari 2015
Harga dan Volume
Harga dan volume merupakan kewajiban standar pada setiap grafik untuk kepentingan teknikal analisis tapi banyak orang yang mengabaikan hubungan kedua item ini dikarenakan banyak orang yang hanya berpihak kepada satu item, terutama item harga. Dahulunya kami juga seperti itu, hanya mementingkan item harga saja dan mengabaikan item volume karna kami beranggapan item volume tidak terlalu signifikan didalam memberikan keterangan (informasi) kepada kami. Terkadang harga naik (uptrend) sementara volumenya malah turun sehingga tidak cocok dengan teori deman dan supply dimana jika permintaan (volume) bertambah maka harga akan naik dan jika permintaan berkurang maka harga akan turun, seperti yang digambarkan pada grafik supply and deman dibawah ini :
![]() | |
| Sumber gambar : http://id.wikipedia.org/wiki/Penawaran_dan_permintaan |
![]() | |
| Sumber : http://www.idx.co.id/id-id/beranda/perusahaantercatat/profilperusahaantercatat.aspx |
"Jardine Cycle and Carriage Limited" memiliki 20,276,860,040 lembar saham dan
Publik 20,205,693,100 lembar saham.
Total Saham beredar astra international. tbk 40,482,553,140 lembar saham.
Atau Jardine memiliki sebesar 50.09% dan publik memiliki 49.91%. Pada komposisi ini Jardine sebagai pemegang saham astra terbesar akan bertindak sebagai pengendali perusahaan dan notaben nya tidak akan menjual sahamnya selama mereka masih berkepentingan terhadap perusahaan sehingga jumlah saham yang akan terus menerus berputar-putar di pasar setiap hari hanyalah saham yang dipegang oleh publik karna pemiliknya banyak, bisa kami dan juga bisa anda karna publik tidak terlalu berkepentingan lansung terhadap perusahaan.
Bisa dikatakan bahwa saham yang berputar terus menerus setiap hari atau saham yang diperdagangkan setiap hari selalu sama, yaitu saham yang dimiliki oleh publik sehingga jika volume perdagangan mengalami kenaikan atau penurunan maka akan memberikan informasi adanya akumulasi saham atau distribusi saham.
kembali lagi kepada teori deman dan supply, sehingga jika volume naik tapi harga turun maka hal ini memberikan informasi bahwa sedang terjadi distribusi besar-besaran sehingga kecenderungan ke depannya adalah penurunan harga. Dan jika volume naik dan harga juga naik maka hal ini memberikan informasi bahwa sedang terjadi akumulasi besar-besaran dengan kecenderungan kedepannya adalah kenaikan harga.
sebagai contoh terlihat pada gambar dibawah :
Namun di dunia ini selalu saja ada tipuan atau kecurangan dan begitu juga pada pasar modal.
Dibawah ini merupakan contoh tipuan tersebut :
Pada kotak-kotak hijau kita mendapatkan informasi bahwa telah terjadi akumulasi besar-besaran sehingga kemungkinana kedepan atau kecenderungannya adalah kenaikan harga tapi yang terjadi selanjutnya malah bertolak belakang dimana harga mengalami penurunan. Pada kasus ini kami tidak merendahkan satu bidang ilmu pengetahuan tapi kami menitik beratkan kepada bagaimana menyikapi hal tersebut. Kami meyakini bahwa tidak satu pun makhluk di dunia ini yang mampu mengetahui masa depan sebab itu teritorial sang pencipta.
Teknik yang digunakan Nicolas Darvas dan Jesse Livermore mampu menyikapi hal ini (tipuan) dimana mereka selalu menunggu konfirmasi lebih lanjut sebelum memutuskan beli atau jual ketimbang terpancing untuk mendapatkan saham dengan harga yang murah.
Garis besarnya mereka berdua selalu mencari signal akumulasi dengan melihat harga dan volume yang selanjutnya melakukan pengawasan dengan ketat untuk menunggu konfirmasi-konfirmasi yang akan terjadi selanjutnya.
Sebagai contoh munculnya signal akumulasi :
Pada saat harga naik lebih tinggi dari kotak bagian atas, disitulah diputuskan untuk melakukan pembelian karna signal distribusi yang muncul benar adanya sebab harga naik lebih tinggi dan jika setelahnya harga kembali turun dibawah kotak bagian bawah maka disitulah pembenaran bahwa kita kena tipu.
Selanjutnya kita akan lihat kejadian apa yang terjadi pada gambar diatas :
Ternyata kelanjutannya adalah kenaikan harga yang tinggi. Jadi setelah muncul signal akumulasi, lalu terbentuk kotak-kotak (sebagai konfirmasi) yang selanjutnya harga naik menembus kotak bagian atas maka pada saat itulah pembelian dilakukan dengan resikonya adalah kotak bagian bawah.
Inilah pandangan kami tentang hubungan harga dan volume yang tidak dapat dipisahkan sehingga kami selalu mencari signal akumulasi, menunggu konfirmasi, baru melakukan pembelian atau penjualan.
Tapi kami sendiri juga sedikit memodifikasi teknik Darvas dan Jesse ini tapi modifikasinya hanya sebatas kepada time frame observasi saja. Jika kami melakukan observasi pada grafik 60 menit maka grafik-grafik 60 menit tersebut akan kami observasi selama 1 bulan kebelakang. jika sekarang bulan januari berarti kami melakukan observasi dengan melihat grafik mulai dari satu bulan sebelumnya untuk mencari signal akumulasi tapi signal akumulasi yang kami cari bukanlah trend harga yang naik dan trend volume yang naik melainkan sebuah kenaikan volume yang tiba-tiba besar dan hanya pada saat itu saja selama 1 bulan kebelakang kenaikannya yang besar dan juga di ikuti dengan kenaikan harga pada saat volume yang tiba-tiba naik banyak tersebut.
Sebagai contoh pada gambar di bawah :
Selama satu bulan kebelakang volume bergerak rata-rata saja, tapi pada suatu saat volume tiba-tiba naik banyak yang juga di ikuti oleh kenaikan harga. Disitulah muncul signal akumulasi dan kami akan menunggu terbentuknya konfirmasi melalui kotak yang berwarna putih, jika selanjutnya harga menembus naik diatas kotak putih maka barulah kami melakukan pembelian.
Sebagai contoh signal akumulasi tipuan :
Pada grafik time frame 60 menit kami melakukan observasi dengan melihat pergerakan harga dan volume sejak 1 bulan kebelakang.
Untuk grafik dengan time frame daily kami melakukan observasi dengan melihat pergerakan harga dan volume sejak 3 bulan kebelakang. Sebagai contoh pada gambar dibawah :
Kami tidak lansung melakukan pembelian pada saat signal muncul tapi kami menunggu konfirmasi terlebih dahulu setelah signal muncul.
Contoh-contoh di ataslah yang membuat kami sadar bahwa harga dan volume merupakan hal yang tidak bisa dipisahkan dan selalu ada tipuan-tipuan, maka dari itu tunggulah selalu konfirmasi sebelum memutuskan dan tidak terpancing dengan kata MURAH.
Kamis, 06 November 2014
Trading for a living
"Trading for a living" memiliki arti hidup dari kegiatan jual beli yang dimaksud dengan jual beli disini adalah jual beli saham. Sebuah kata magis yang mampu menghipnotis kami pada waktu mendengarnya. Bagaimana mungkin ? Karna kami belum pernah menemui orang yang hidup dari jual beli saham karna rata-rata orang yang kami temui banyak hidup dari bekerja sebagai pegawai atau buruh atau berbisnis.
Dunia pasar keuangan masih dianggap gelap oleh kebanyakan orang, kurangnya ilmu pengetahuan tentang pasar keuangan yang sangat kompleks dan tidak ada pendanaan dari perbankan untuk pasar keuangan membuat kata-kata "trading for a living" menjadi sangat magis untuk kami. Namun karna adanya pengakuan dari beberapa pihak yang menyatakan bahwa mereka hidup dari jual beli saham membuat kami tertarik untuk memikirkannya dan bahkan orang sekelas Jesse Livermore pun juga melakukan trading for a living ini. Jesse Livermore ini sendiri setenar dan memiliki harta sekelas Warren Bufet pada jaman sekarang yang bersumber dari pasar keuangan. Jesse Livermore hidup pada era 1920 an.Pada waktu itu kami memulainya dengan membentuk Rencana Anggaran Biaya (RAB) atau sering disebut orang "kalian harus memiliki target dalam hidup", RAB pun merupakan target yang harus diusahakan atau harus diraih semampu kita. RAB tersebut tidaklah terlalu rumit karna isinya adalah untuk mengetahui seberapa besar beban yang harus ditanggung dan apa saja beban-beban tersebut seperti menggaji diri sendiri, biaya listrik dan air, biaya makan dan minum, dan lain sebagainya sehingga berdasarkan beban-beban tersebut akan terlihat seberapa banyak pendanaan yang mesti didapatkan dan sebarapa besar pendapatan yang harus diraih. Kami akan sajikan ilustrasi dari RAB tersebut.
RAB
Pada ilustrasi gambar diatas terdapat dua jenis RAB :
- RAB dengan pendanaan kredit yang artinya didalam RAB itu ada beban kredit (apakah kredit rumah, kendaraan, atau kredit untuk mendanai proyek trading for a living). Kredit ini bisa kepada pihak bank atau mungkin mengajak orang untuk mendanai proyek ini.
- RAB tanpa kredit yang artinya proyek trading for a living didanai dari kantong sendiri, jadi tidak ada beban kredit disini.
Kolom porsi pada kedua RAB memiliki arti seberapa besar nilai dari beban-beban tersebut terhadap total pengeluaran per bulannya. Jadi RAB ini dibikin berdasarkan pengeluaran yang dikeluarkan tiap bulannya.
Kolom porsi ini memberikan informasi kepada kita beban mana yang memberatkan pengeluaran dan apakah beban yang berat tersebut bisa kita kurangi lagi untuk menghemat pengeluaran atau memang tidak bisa kita kurangi lagi. Semua tergantung kepada diri kita masing-masing untuk memberikan beban-beban tersebut.
Kami tidak mampu mengeluarkan kredit dari bank atau mengakali pihak bank supaya kredit pendanaan proyek trading for a living ini bisa cair. Ilustrasi gambar diatas hanyalah rekayasa saja tapi bisa diterapkan.
Pada RAB dengan kredit disimpulkan bahwa dana yang harus disiapkan sebesar Rp 44.400.000 yang mana dana ini kami bagi lagi yaitu sebesar 15% atau sebesar Rp 6.660.000 kami gunakan untuk modal trading tiap hari (beli saham terus dijual pada hari yang sama atau beli saham hingga mampu memenuhi targetnya dalam sebulan) dan sisanya sebesar Rp 37.740.000 kami gunakan untuk modal investasi (beli saham terus dihold hingga mencapai pertumbuhan yang diinginkan atau beli saham terus jual jika telah mencapai kerugian yang sanggup kita tanggung). Bicara tentang kerugian yang sanggup ditanggung kami jadi teringat pernah membahasnya Pada LINK ini.
Kami menggunakan porsi sebesar 15% dengan alasan supaya porsi yang digunakan untuk investasi bisa cukup besar karna porsi untuk investasi merupakan asuransi kita untuk menjaga portfolio tidak hancur lebur. Kami menyarankan besaran porsi dana untuk ditradingkan sebesar 15%-20% saja.
Dengan porsi sebesar 15% dari total portfolio atau sebesar Rp 6.660.000 kita harus meraih laba bersih sebesar Rp 625.300 per hari atau sebesar Rp 7.503.600 per bulan tapi kami tidak menargetkan jumlah hari trading sebanyak hari bursa dalam sebulannya (20 hari), kami hanya menargetkan jumlah hari hanya 12 hari saja karna dalam sebulan kami memperkirakan adanya hambatan-hambatan di dalam trading seperti ada penurunan-penurunan kecil pada pasar keuangan atau kitanya yang tidak bisa trading yang disebabkan mesti mengantarkan TOKEK ke dokter hewan pada hari itu.
Selanjutnya adalah melakukan pengawasan dari kegiatan trading kita dan pengawasan dari portfolio dengan ilustrasi sebagai berikut :
Pencatatan Progress untuk pengawasan
Pada Kotak "Target bulanan" setiap kolom berwarna kuning kita isi manual. Pada Baris Target di kolom no 1 kita isi dengan target kita per harinya atau setiap kali melakukan trading dan pada baris progress kita isikan dengan laba/rugi yang kita dapatkan setiap kali trading. Ada 12 kolom yang mesti di isi yang menyatakan aktivitas (progress) setiap trading selama 12 hari dalam satu bulan.
Pada kotak "Portfolio" ada 12 kolom juga yang diisikan tapi hal ini mewakili 12 bulan, gunanya untuk melihat pertumbuhan portfolio setiap bulannya yang akan dibandingkan dengan index (dalam hal ini adalah IHSG).
visualisasi kegiatan sebagai berikut :
Visualisasi kegiatan trading, apakah dapat memenuhi target atau tidak
Visualisasi pertumbuhan portfolio dan perbandingan dengan index
Kami mengilustrasikan bahwa kemampuan portfolio diatas index dan kemampuan aktivitas trading mampu memnuhi target walaupun progress dan portfolio sempat terjadi penurunan tapi pada akhirnya mampu memenuhi target-targetnya.
Kami tidak lagi melakukan "trading for a living" karna sangat menyita waktu seperti layaknya mengurus toko atau mengurus bisnis dan kondisi kesehatan kami tidak memadai untuk melakukakan kegiatan yang sangat menguras fikiran dan tenaga ini.
Kami berharap tulisan kali ini mampu membuka fikiran dan pehaman bahwa trading for a living itu bisa dilakukan karna layaknya memiliki toko atau bisnis meskipun targetnya tergolong besar dan untuk itulah kita mesti memperbanyak ilmu pengetahuan pada bidang apa pun karna pasar keuangan itu sangat kompleks dan latihlah terus pengetahuan tersebut karna target kita tiap harinya adalah sebesar 2.8% - 9% per hari terhadap modal untuk trading atau target kita sebesar 7% - 16.90% per bulan terhadap portfolio atau 7%-20% per bulan terhadap modal untuk investasi.




















